Details

Added by on 2015-03-31

Kata “Cinta” bukan lagi suatu yang asing buat kita.
Bahkan setiap orang pernah merasakan cinta, setiap orang memiliki rasa cinta.

Apalah jadinya hidup tanpa cinta?
Hampa dan hambar, roda peradaban seolah enggan terkayuh, kehidupan seakan berdenyut, nestapa bertahta, duka berkuasa, karenanya cinta adalah anugrah yang patut disyukuri.

Cinta kepada wanita, harta, anak, orang tua dan berbergai macam kenikmatan dunia menjadi sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia.

Dan cinta yang paling tinggi dan mulia adalah cinta seorang hamba kepada Rabbnya.

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, anas bin Malik radillahu’anhu menceritakan

“Ketika saya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari masjid, kami bertemu dengan seorang laki-laki di pintu masjid.
Dan pria itu bertanya ‘Wahai Rasulullah, kapankah hari kebangkitan?’.”
Beliau bertanya, “Apa persiapanmu menghadapi hari kiamat itu?”
Lelaki itu seakan merasa bersedih, kemudian berkata,“Wahai Rasulullah, Saya tidak punya persiapan suatu yang besar baik berupa shalat, puasa, dan sedekah, tetapi saya mencintai Allah dan Rasul- Nya.”
Mendengar ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau akan dikumpulkan bersama siapa saja yang engkau cintai.”

Selain itu, cinta juga mengajari kita ikhlas dan benar dalam beribadah. Al-Imam Abu ‘Ali Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,

أخلصه وأصوبه. قالوا: يا أبا علي، ما أخلصه وأصوبه؟ قال: إن العمل إذا كان خالصا ولم يكن صوابا لم يقبل، وإذا كان صوابا ولم يكن خالصا لم يقبل، حتى يكون خالصا صوابا، والخالص أن يكون لله، والصواب: أن يكون على السنة

“Amalan yang paling baik adalah yang paling ikhlas dan paling benar”. Orang-orang bertanya, “Wahai Abu ‘Ali apakah yang dimaksud dengan paling ikhlas dan paling benar?” Beliau menjelaskan, “Sesungguhnya amalan jika telah ikhlas tetapi tidak benar maka tidak diterima (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala). Demikian sebaliknya, jika amalan tersebut telah benar tetapi tidak ikhlas juga tidak akan diterima (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala), sampai menjadi ikhlas dan benar. Sedangkan yang dimaksud dengan amal yang ikhlas adalah yang dilakukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan yang dimaksud dengan amalan yang benar adalah jika dilakukan sesuai Sunnah (Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam).” (Iqtidho’ Shirothil Mustaqim, hal. 451-452)

Simak murottal Surat Ali Imran ayat 14-32, yang insyaAllah dapat meningkatkan kecintaan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan jalan mengikuti petunjuk Rosulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam

 

Category:

Murottal

Comments are closed.